Daftar Blog Saya

Rabu, 08 Juni 2011

Punk Not Die

  1.  

    "" Kami bukan sampah "

    " Dan kami hanya ingin kebenasan "
       :" Angkat Gelas KIta Bersulank " 

    2 komentar:

    1. oOoOoOoOoO..,,Ku benci semua ynk ta' pasri. , ,

      oOoOoOoOoO..,,Rambut Spagy di bilank Punky. , ,

      oOoOoOoOoO..,,Mall di penuhi lambank Anarchi. , ,

      oOoOoOoOoO..,,Chiliders ingin jadu "PUNKROCKSTAR". . .

      BalasHapus
    2. "DERAI DERAI CEMARA"

      cemara menderai sampai jauh
      terasa hari akan jadi malam
      ada beberapa dahan di tingkap merapuh
      dipukul angin yang terpendam

      aku sekarang orangnya bisa tahan
      sudah berapa waktu bukan kanak lagi
      tapi dulu memang ada suatu bahan
      yang bukan dasar perhitungan kini

      hidup hanya menunda kekalahan
      tambah terasing dari cinta sekolah rendah
      dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
      sebelum pada akhirnya kita menyerah

      1949


      "YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS"

      kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
      menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
      malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

      di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

      aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
      dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
      tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

      tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku

      1949


      "SAJAK PUTIH"

      Bersandar pada tari warna pelangi
      Kau depanku bertudung sutra senja
      Di hitam matamu kembang mawar dan melati
      Harum rambutmu mengalun bergelut senda

      Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
      Meriak muka air kolam jiwa
      Dan dalam dadaku memerdu lagu
      Menarik menari seluruh aku

      Hidup dari hidupku, pintu terbuka
      Selama matamu bagiku menengadah
      Selama kau darah mengalir dari luka
      Antara kita Mati datang tidak membelah...


      "AKU"

      Kalau sampai waktuku
      'Ku mau tak seorang kan merayu
      Tidak juga kau

      Tak perlu sedu sedan itu

      Aku ini binatang jalang
      Dari kumpulannya terbuang

      Biar peluru menembus kulitku
      Aku tetap meradang menerjang

      Luka dan bisa kubawa berlari
      Berlari
      Hingga hilang pedih peri

      Dan aku akan lebih tidak perduli

      Aku mau hidup seribu tahun lagi

      Maret 1943

      BalasHapus